A Drop of Water
Hari Minggu sore, di hutan biasa. Sedari pagi matahari malas untuk tampil. Mungkin saja matahari juga berpikir kalau sometimes, nggak ngapa-ngapain itu juga enak (quoted1), sembunyi aja di balik awan yang empuk. Dari tirai jendela kantor yang sedikit terbuka bisa kulihat hutan dengan pohon-pohon besarnya, dengan pucuk-pucuk dedaunan pakunya. Bergradasi sejenak berubah menjadi padang ilalang, melengkung putih ujungnya, bergerombol. Lalu perdu stepa, hamparan tanah gambut hitam, bakau-bakau yang belum sempurna tumbuh dan berakhir pada lautan. Di ujung penglihatan tampak api flare dari platform lepas pantai.
What a beautiful scenary, sampai sesaat kemudian, kaca jendela itu mulai memudar. Tik.. tik.. tik.. gerimis mulai datang. What a beautiful drizzle, I love drizzle. Partikel tetesan-tetesan air melakukan fusi di kaca jendela, semakin besar.. besar.. kemudian tergelincir oleh pesona gravitasi.. jatuh.. pecah.. berkeping, kemudian meresap.. di pangkuan sang ibu, mother earth.
Water.. sejak zaman SR (biar kayanya jaduuul banget) kita sama-sama diajari, 70% of human body consists of water (or fluids? cmiiw). Tubuh memerlukan 1.6 liter air atau setara 8 gelas air. Bukan hanya dari ilmu hayat, dari ilmu sejarah dan antropologi pun disebutkan, fosil Pithecantropus Erectus dan Meganthropus Palaeojavanicus ditemukan di lembah sungai Bengawan Solo, dan Homo Mojokertensis ditemukan di lembah sungai Brantas. Artinya, air memang kebutuhan vital manusia.
Paradoks Kran Air
Saya yakin bukan kran, sekali lagi bukan kran air yang salah walaupun dia punya andil. Bingung? Ada apa dengan kran? Pada zaman pra-kran, katakan saja pada jaman embah-embah manusia purba yang saya sebutkan di atas, tidak adanya kran air membuat manusia lebih menghargai air. Mengapa? jelas saja, karena perlu usaha untuk mendapatkan air bersih. Menimba air atau membawa gentong untuk mengambil air dari sungai. Ketergantungan pun berakibat pada pemeliharaan terhadap sumber ketergantungan. Sungai pun dipelihara dengan baik.
Jadi bisa dilihat, dengan ditemukannya trio maut: pipa, pompa dan kran. Paradigma manusia pun bergeser. Air menjadi barang yang gampang didapat, cukup dengan memutar kran counter-clockwise untuk membuka aliran, dan memutar clockwise untuk menutup aliran. Dalam hal ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa modernisasi tanpa pemahaman akan berakibat fatal!
Air mudah didapat! hal itulah yang kemudian mengakar di sebagian besar manusia. Sumber air, siklus air, sungai pun dilupakan karena sumber air adalah kran air. Masa bodo dengan sungai, masa bodo dengan sumber air, masa bodo dengan hutan lindung. Peralihan fungsi pun terjadi. Sungai bukan lagi menjadi sumber air, tetapi menjadi tempat sampah praktis, lempar dan hanyut. Hutan lindung tidak lagi dipikirkan untuk menjaga sungai tetap mengalir, tapi jadi komoditi pulp yang ekonomis. Sekali lagi bukan sepenuhnya salah kran, tetapi kran berperan.
Rheine River
Komparasi Global
"Orang Vienna sangat membanggakan air-nya yang layak minum walaupun itu berasal dari sungai" Kata Bama, sepulang travelling dari Eropa. "Wow!!", jawab saya. Setelah saya baca buku "Naked Traveller" (yang sekarang masih dibawa si oknum) dan "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya $ 1000" (yang juga mau dipinjem sama si oknum) ternyata bukan hanya Vienna yang airnya layak minum, tetapi di sebagian besar negara Eropa! "Tingkat peradaban manusia dilihat dari bagaimana dia memelihara air-nya" kata suhu pembawa acara Feng Shui di televisi, beberapa tahun yang lalu (saya lupa nama suhu engkoh tersebut).
Seine River
Bila kita klasifikasikan komunitas manusia menjadi dua kelompok besar, Beradab dan Tidak Beradab (baca=biadab,-pen) berdasarkan statement sang engkoh suhu, tentu masyarakat Eropa yang saya sebutkan di alinea sebelumnya adalah kelompok Beradab. Ehm, unfortunately sungai Ciliwung, Cikapundung dan sungai-sungai lainnya yang tersebar sporadis di seluruh tanah air cukup untuk memasukkan kita ke kelompok yang kedua.
Thames River
Tenang, sodara-sodara.. masih ada jalan keluar:
1. Troubleshoot kebobrokan sungai dari hulu ke hilir, bikin sungai sebagai kawasan sakral! ehm, dengan kekuatan tangan besi tentunya..
2. Pahamkan masyarakat akan ekologi, siklus air, dan kebutuhan kita akan air yang sedemikian primernya.
3. Boikot Kran!! (dan aktifkan home industry ember, gentong dan timba!!)
---
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan pribadi penulis, berpikir.
- (quoted): di quote dari sms si oknum pada hari minggu 29 Juli 2008
- Si oknum: Oknum yang biasanya itu loh..
- Gambar di-search di google dengan keywords: "thames river", "water drop", "seine river", dan "rhine river"
















